Jangan
Mempertentangkan Perintah Allah: Sholawat dan Membaca Al-Qur’an Sama-Sama
Penting
Dalam kehidupan beragama, terkadang muncul pandangan yang keliru dari sebagian orang yang membandingkan dan bahkan mempertentangkan satu amal ibadah dengan amal ibadah lainnya. Ada yang mengatakan bahwa membaca Al-Qur’an lebih utama daripada bersholawat, atau sebaliknya memperbanyak sholawat dianggap lebih baik daripada membaca Al-Qur’an. Padahal, keduanya adalah perintah Allah ﷻ yang memiliki keutamaan masing-masing, dan keduanya sama-sama penting bagi kehidupan seorang Muslim.
Al-Qur’an adalah
kalamullah, kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ
sebagai petunjuk hidup bagi seluruh manusia hingga akhir zaman. Allah ﷻ
berfirman:
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)
Membaca, mempelajari,
dan mengamalkan Al-Qur’an adalah kewajiban besar. Rasulullah ﷺ
bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah
yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari)
Dari sini jelas bahwa
Al-Qur’an adalah pedoman utama dalam kehidupan. Ia mengandung hukum, petunjuk,
akhlak, serta solusi atas berbagai permasalahan manusia.
Sholawat sebagai Wujud
Cinta kepada Nabi ﷺ
Di sisi lain,
bersholawat kepada Nabi ﷺ juga merupakan
perintah langsung dari Allah ﷻ. Bahkan, Allah ﷻ
dan para malaikat-Nya pun bersholawat kepada Rasulullah ﷺ.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah dan
malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman,
bersholawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
(QS. Al-Ahzab: 56)
Sholawat adalah bentuk
penghormatan, cinta, dan doa bagi Rasulullah ﷺ. Melalui
sholawat, seorang hamba memperoleh keberkahan, ampunan, rahmat, bahkan
kemudahan rezeki serta keselamatan dunia-akhirat. Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Barangsiapa
bersholawat kepadaku satu kali, Allah akan bersholawat kepadanya sepuluh kali.”
(HR. Muslim)
Jangan Pertentangkan,
Keduanya Perintah Allah
Para ulama menegaskan,
memperbanyak membaca Al-Qur’an dan memperbanyak sholawat tidak boleh
dipertentangkan, karena keduanya adalah ibadah yang diperintahkan.
Al-Qur’an → sumber
hukum, pedoman hidup, cahaya bagi umat.
Sholawat→ sarana
memperkuat cinta kepada Nabi ﷺ, pembuka doa,
penghapus dosa, dan jalan turunnya rahmat Allah.
Imam Ibn Hajar
al-Haitami dalam ad-Durr al-Mandhud menjelaskan bahwa memperbanyak sholawat
adalah amalan yang sangat dianjurkan, namun tidak boleh sampai melalaikan
kewajiban atau menjauhkan seseorang dari membaca Al-Qur’an.
Keseimbangan dalam
Ibadah
Islam adalah agama yang
penuh keseimbangan. Dalam ibadah, seorang Muslim harus menempatkan segala
sesuatu sesuai porsinya:
Ia membaca Al-Qur’an
setiap hari sebagai pedoman hidupnya.
Ia bersholawat setiap
saat sebagai wujud cintanya kepada Rasulullah ﷺ.
Ia berzikir untuk menenangkan hati.
Ia berdoa memohon
kebutuhan hidupnya.
Semua ini saling
melengkapi, bukan saling meniadakan.
Mempertentangkan antara
membaca Al-Qur’an dengan bersholawat adalah kesalahan besar. Keduanya merupakan
perintah Allah ﷻ dan memiliki fadhilah
masing-masing. Al-Qur’an adalah petunjuk hidup yang wajib dijadikan pedoman,
sementara sholawat adalah doa istimewa yang bahkan Allah dan malaikat pun
mengerjakannya.
Seorang Muslim yang cerdas adalah yang mampu menyeimbangkan amal ibadahnya: menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan harian dan memperbanyak sholawat sebagai bentuk cinta kepada Rasulullah ﷺ. Dengan demikian, hidupnya akan senantiasa berada dalam cahaya petunjuk dan limpahan rahmat Allah ﷻ.
Apakah Salah Jika
Mengatakan:
“Yang terbaik adalah
memperbanyak membaca Al-Qur’an dibanding memperbanyak sholawat?”
Jawaban
berdasarkan tuntunan para ulama dalam kitab kirabnya :
Imam
al-Qurthubi (w. 671 H) dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (juz 14, hlm. 233) menjelaskan:
Membaca
Al-Qur’an adalah dzikir paling agung. Namun bersholawat kepada Nabi ﷺ
memiliki keutamaan khusus, karena ia adalah perintah Allah secara langsung: “Innallaha
wa malaaikatahu yusholluuna ‘alan Nabi” (QS. al-Ahzab: 56).
Imam
as-Sakhawi (w. 902 H) dalam al-Qaul al-Badi’ fi ash-Shalati ‘ala al-Habib
asy-Syafi’ menegaskan:
Tidak
boleh seseorang menganggap enteng sholawat atau menolak memperbanyaknya dengan
alasan lebih baik membaca Al-Qur’an. Karena masing-masing ibadah punya
keutamaan tersendiri. Sholawat adalah bentuk syukur dan pengakuan atas jasa
Nabi ﷺ.
Imam Ibn Hajar al-Asqalani
(w. 852 H) dalam Fath al-Bari (juz 11, hlm. 167):
Sholawat
memiliki kedudukan unik karena langsung disandingkan dengan sholawat Allah dan
para malaikat (QS. al-Ahzab: 56). Tidak ada amalan lain yang Allah nyatakan demikian.
Syekh Yusuf an-Nabhani (w. 1350 H) dalam Afdhal ash-Shalawat ‘ala Sayyid as-Sadat menyebutkan:
Membaca
Al-Qur’an adalah dzikir paling mulia secara mutlak. Namun memperbanyak sholawat
di waktu tertentu (seperti malam Jumat, setelah adzan, di majelis ilmu) bisa
lebih utama karena mengikuti tuntunan syariat.
Nabi ﷺ
bersabda:
“Orang yang paling berhak mendapat
syafa’atku adalah yang paling banyak bersholawat kepadaku.” (HR.
Tirmidzi, no. 484)
Nabi ﷺ
juga bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling di bumi, menyampaikan
salam umatku kepadaku.” (HR. an-Nasa’i, no. 1282)
Namun dalam hadis lain
disebutkan:
“Sebaik-baik
kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR. Bukhari, no. 5027)
Artinya, Al-Qur’an dan sholawat tidak boleh dipertentangkan, keduanya ibadah yang sama-sama dianjurkan.
1. Membaca Al-Qur’an
adalah dzikir paling utama secara umum.
2. Bersholawat punya keutamaan khusus, terutama terkait
syafa’at Nabi ﷺ, dan kadang lebih utama di waktu-waktu tertentu.
3.Membandingkan
keduanya dengan merendahkan sholawat adalah keliru, sebab keduanya bagian dari
syariat.
4.Ulama menyarankan menggabungkan keduanya: memperbanyak membaca
Al-Qur’an sekaligus memperbanyak sholawat, sesuai kondisi dan waktu.
Mengatakan
“yang terbaik hanya membaca Al-Qur’an, tidak perlu banyak sholawat” adalah salah , karena merendahkan salah satu syiar Islam.
Ulama menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah dzikir tertinggi, sedangkan sholawat
adalah dzikir khusus yang diperintahkan langsung oleh Allah . Maka yang benar
adalah keduanya sama-sama utama, dengan
posisi masing-masing, dan sebaiknya diamalkan bersama.